20 March 2016

Movie Review: The Mermaid (2016)


"Being invincible is lonely, so lonely. Being invincible is empty, so empty."

Dirilis di China pada tanggal 8 februari 2016, sepuluh lebih satu hari karya terbaru dari Stephen Chow (Shaolin Soccer, Kung Fu Hustle, CJ7) ini sudah berhasil meraih predikat sebagai the highest-grossing Chinese film of all time. Ya, all time, bukan hanya di tahun 2016, hanya dalam kurun waktu 11 hari. Apa faktor yang menyebabkan kesuksesan tersebut berhasil The Mermaid raih? Karena Stephen Chow? Journey to the West: Conquering the Demons saja tidak berada di level yang sama. Penyebabnya adalah karena The Mermaid berhasil menampikan kekonyolan dengan eksekusi yang serius, dan membawa elemen serius mencapai target utamanya dengan cara bersenang-senang bersama banyak hal konyol, mo lei tau dengan eksekusi yang terkendali. The Mermaid: nasty, messy, goofy, crazy, but tasty comedy.

Seorang miliarder kaya raya bernama Liu Xuan (Deng Chao) berhasil membuat sebuah kejutan dengan memenangkan lelang Green Gulf, lokasi yang rencananya akan ia gunakan untuk melakukan proyek reklamasi serta menggunakan teknologi sonar terbaru untuk mengusir semua makhluk hidup di laut yang berada di sekitar Green Gulf. Ambisi Liu Xuan semakin sulit untuk terbendung setelah kompetitornya dalam pelelangan tadi, Li Ruolan (Kitty Zhang Yuqi), memutuskan untuk bergabung dengan Liu Xuan walaupun smuesungguhnya ia memiliki rencana lain. Namun ternyata rencana Liu Xuan tidak berjalan mudah setelah ia secara tidak sengaja bertemu dengan gadis muda bernama Shan (Lin Yun).

Liu Xuan yang awalnya cuek perlahan mulai tertarik pada Shan terutama pada tingkah polos serta kemampuannya membuat Liu Xuan merasakan kebahagiaan yang sudah lama sulit ia rasakan. Liu Xuan merasa bahwa pertemuannya dengan Shan yang hanya berawal dari sebuah nomor telepon merupakan sebuah takdir, dan si playboy bersiap untuk mengencani Shan. Tapi di sisi lain Shan ternyata telah mengatur sebuah rencana, ia diberi tugas oleh Octopus (Show Luo) serta “keluarganya” untuk menjerat Liu Xuan, membawanya ke tempat tinggal mereka di sebuah kapal tua di tepi tebing Green Gulf. Tujuan utama Shan dan keluarganya adalah untuk membunuh Liu Xuan, karena proyeknya tadi telah merusak habitat mereka, para duyung. 


The Mermaid merupakan kisah tentang putri duyung yang dikirim masuk ke dunia manusia melakukan aksi penyamaran untuk membunuh seorang pria kaya pemilik sebuah proyek yang telah mencemari habitat pada duyung. Sangat sederhana, sinopsis The Mermaid sangat sederhana, tapi dibalik itu ternyata tersimpan banyak warna yang tidak hanya sebatas berhasil disatukan dengan baik oleh Stephen Chow menjadi sebuah kombinasi yang manis secara struktural, mereka juga berhasil saling bantu satu sama lain untuk membawa penontonnya menyaksikan sebuah sajian sci-fi, fantasy, drama, romance, hingga komedi yang “gila”. Ya, gila merupakan wakil yang tepat untuk The Mermaid, sebuah presentasi sepanjang 94 menit yang sukses membuat penontonnya menikmati banyak rasa secara bersamaan dengan masing-masing memiliki kualitas yang mumpuni.

Menyaksikan The Mermaid seperti sedang menikmati sebuah permen yang punya banyak rasa, ia mampu terasa pedas dengan misi mencoba mendorong isu kesadaran akan bahaya yang sedang mengancam lingkungan hidup, di sisi lain ia juga sanggup terasa asam lewat kisah hidup Liu Xuan yang ternyata merupakan seorang pria kesepian dan haus akan cinta. Tidak berhenti sampai di situ, The Mermaid juga berhasil tampil manis dengan kisah romansa cinta yang sederhana namun efektif, dan hal yang menyebabkan The Mermaid terasa segar adalah baik itu drama, romance, hingga isu sosial tanpa kesan menggurui itu tampil dengan dibalut komedi yang terus menebar ledakan menyenangkan. Yeah, ini bagian terpenting dari film Stephen Chow, harus ada penyajian over the top yang menghasilkan kesan konyol hingga sukses mengundang tawa. The Mermaid sukses tampil gila karena mo lei tau yang ia sajikan tampil memikat.


Salah satu alasan mengapa The Mermaid berhasil meraih banyak cinta karena ia mampu memberikan rasa segar kepada penonton saat menyeimbangkan “elemen” bodoh dan pintar dalam kadar yang sama besar. Elemen pintar eksekusinya terasa manis, dan elemen bodoh dieksekusi dengan cantik. Banyak materi klasik bahkan beberapa akan menyebutnya basi dari sebuah komedi di film ini, namun Stephen Chow mampu dengan tangkas mengolah materi tadi dengan menggabungkannya bersama keanehan andalannya. Aksi bela diri tentu masih hadir namun The Mermaid lebih didominasi permainan humor verbal dan humor visual yang memiliki tik-tok mengasyikkan. Gurita kesakitan ketika kakinya sedang dicincang? Itu gila. Seorang polisi dengan tampilan meyakinkan justru mulai bermain-main dengan imajinasi liar miliknya tentang kombinasi manusia dan ikan? Itu gila.

Kesuksesan The Mermaid lahir dari kemampuan Stephen Chow mewarnai materi yang ia miliki. Hal tersebut merupakan keunggulan The Mermaid, ketika Stephen Chow mampu menempatkan beberapa isu seperti lingkungan hidup, kebahagiaan, hingga cinta di pusat cerita namun di sisi lain ia juga berhasil mewarnai cerita dengan lelucon yang universal, lelucon yang mudah dicerna tapi tidak terasa menjengkelkan. Tidak ada yang spesial sebenarnya di cerita, bahkan jika anda perhatikan lebih mendalam unsur drama dan romance jika dinilai secara terpisah juga tidak mencapai titik maksimal dari misi yang ingin ia raih, tapi seperti ada magic yang mendorong naik nilai mereka ketika mereka bergabung menjadi satu bersama komedi. Inti dari pesan di masing-masing bagian tampil tersirat dan tajam, namun karena Stephen Chow terus menekan rasa oddball atau komik mereka tidak tenggelam dan terus menonjol.


Namun ada satu hal yang terasa aneh dari The Mermaid, ketika sepanjang cerita ia terang-terangan tampil konyol tapi penonton tetap mampu merasakan kehangatan dari isu yang ia bawa. Masalah sederhana seperti pembunuhan liar hewan serta individu haus cinta misal berhasil membentuk imajinasi penonton. Anda tidak hanya mengamati karakter utama menyelesaikan masalah mereka, anda juga merasakan apa yang mereka rasakan. Dan itu aneh, karena cerita bergerak dengan kekonyolan di mana-mana. Itu alasan mengapa elemen lain dari cerita tidak pernah tenggelam oleh komedi, karena penonton sudah stick dengan mereka sejak awal, selain tentu saja karena ketukan irama, timing, serta komposisi yang mumpuni dari masing-masing bagian cerita sehingga alur cerita mengalir lembut dan meminimalisir dampak dari nilai minus yang ia punya, seperti finale misalnya. CGI? Justru dengan rasa kartun semua kekonyolan semakin lucu. 

Walaupun begitu kemampuan Stephen Chow saja bukan menjadi satu-satunya alasan The Mermaid meraih kesuksesan besar, kinerja akting juga punya andil dan ini penting karena Chow menggunakan mo lei tau tanpa kehadirannya sebagai pemeran, dan apa yang dilakukan cast masuk dalam kategori sukses. Zhang Yuqi berhasil berperan sebagai pemegang kunci di elemen drama, tekanan yang Ruolan hasilkan tidak buruk. Show Luo berhasil tampil konyol, dan Deng Chao satu tingkat di atasnya, ia berhasil menggabungkan komedi verbal dan visual dengan materi standar menjadi lucu namun di sisi lain juga perlahan menarik simpati penonton pada Liu Xuan. Namun kesuksesan terbesar yang Chow lakukan di divisi cast adalah menemukan Lin Yun, model 18 tahun dan langsung menjadi pemeran utama di debut layar lebar, itu bukan pekerjaan mudah namun berhasil ditangani dengan tepat sehingga Shan punya pesona yang manis.


Overall, The Mermaid (美人) adalah film yang memuaskan. Menyajikan materi klasik dan sederhana dari cinta hingga lingkungan dan manusia dengan presentasi yang imajinatif serta penuh warna merupakan kesuksesan terbesar yang berhasil Stephen Chow hasilkan di The Mermaid. Ini adalah fantasi namun penonton merasa dekat dengan masalah yang tampil tanpa kesan menggurui, merasa dekat karakter, dan merasa dekat pula dengan lelucon yang universal. The Mermaid merupakan sebuah kekacauan menyenangkan yang terkendali, membawa banyak pesan dari kapitalisme hingga cinta yang tidak memiliki limit menariknya ia tidak pernah terasa sesak ketika bercerita, justru sebaliknya, terus mengalir lembut bersama mo lei tau dan kejutan yang menyegarkan. It’s messy, it’s nasty, it’s goofy, it's crazy, it’s tasty.








0 komentar :

Post a Comment