30 November 2015

Review: Creed (2015)


“You are Apollo Creed's son. So use the name, it's yours."

Jika memang harus dipaksa dengan tampilan fisik yang masih tampak perkasa itu Sylvester Stallone sebenarnya bisa saja kembali terjun kedalam ring tinju seperti tahun 2006 yang lalu. Tapi apakah menyaksikan pria berusia 69 tahun masuk ke ring dan menghantam KO lawan-lawannya merupakan harapan semua penonton hingga fans dari film Rocky terbaru? That’s a bit, yeah. Lalu bagaimana cara mengobati rasa rindu pada Rocky Balboa? Creed adalah jawabannya, rekonstruksi penuh hormat dari formula klasik Rocky.

Karena sejak lahir tidak pernah bertemu Adonis “Donnie” Johnson (Michael B. Jordan) tidak tahu bahwa ia merupakan anak dari juara dunia tinju kelas berat bernama Apollo Creed. Walaupun begitu darah seorang petinju dari Apollo ternyata dimiliki pula oleh Adonis. Hal tersebut yang membuat Adonis memutuskan untuk pergi ke Philadelphia yang dahulu merupakan tempat diselenggarakannya pertandingan legendaris sang ayah dengan Rocky Balboa (Sylvester Stallone). Tidak berhenti sampai disana, Adonis memutuskan menemui Rocky untuk memintanya menjadi pelatih, permintaan yang diterima oleh Rocky karena ia melihat tekad dan kekuatan yang dahulu pernah ia kenal dari sosok Apollo. 



Tidak bisa dipungkiri memang kalau Creed ini sangat kental dengan rasa Rocky, ini seperti film Rocky tanpa menggunakan Rocky sebagai judulnya. Namun dengan rasa yang akrab baik itu dari  nada sampai dengan ketukan cerita bukan berarti film ini sangat nyaman berada di bawah baying-bayang Rocky, justru sebaliknya ia berhasil bercerita dengan penuh percaya diri, mencampur sisi liar dan hangat namun tetap menjaga sikap hormat pada warisan yang telah diciptakan oleh Sylvester Stallone. Creed seperti usaha regenerasi dari salah satu film olahraga yang dicintai banyak orang itu, sinopsis standar dengan twist oke Creed berhasil memberikan penonton apa yang mereka kenal dari film-film Rocky dengan rasa yang segar.



Rocky bukan hanya tentang tinju, Rocky adalah tentang perjuangan yang mengandalkan semangat dan rasa percaya diri sebagai jualan utama. Hal tersebut yang berhasil ditempatkan dengan manis di pusat cerita film ini oleh Ryan Coogler, perjuangan mencari jati diri dari seorang underdog yang dilengkapi dengan asa dan cinta berdiri kuat di pusat, dan setelah itu hadirkan berbagai “dentuman” yang penonton harapkan. Hasilnya, pertunjukan cantik hasil manipulasi yang cerdik, taruh senjata baru berupa karakter Donnie sebagai anak panah yang menghujam penonton dengan berbagai pukulan mengasyikkan, tapi dibelakangnya tempatkan Sylvester Stallone sebagai pemanah yang telah mengerti bagaimana mengarahkan anak panah untuk menghujam sasaran.



Seperti itu kira-kira film ini bekerja, dengan sedikit style seperti dokumenter kamu akan dibawa untuk melihat proses dimana Donnie tumbuh sebagai individu, baik itu dari semangat, skill, bahkan cinta. Hubungan antara mentor-mentee juga dikemas dengan hati-hati oleh Ryan Coogler, keras dan lembut bergantian hadir tanpa membuat mereka tampak klise, kehangatan antara Donnie dan Rocky perlahan tumbuh seperti ayah dan anak, terkadang pedih dengan push and pull tapi rasa sayang terus tumbuh. Tidak heran ketika telah merawat unsur drama dengan terampil bukan hanya montase pelatihan menjadi tidak monoton tapi ketika Donnie masuk kedalam ring tinju Coogler memetik hasil dari pondasi yang ia buat pada karakterisasi dan emosi, boom boom boom pada pertarungan terasa oke karena kita sudah peduli dengan perjuangan Donnie.



Dengan berbagai kelebihan tadi bukan berarti Creed tidak punya kekurangan, dari naskah meskipun dialog oke tapi di beberapa bagian terasa goyah karena durasi memang juga cukup gemuk, begitupula dengan unsur romance yang walaupun punya peran penting tapi daya tariknya timbul dan tenggelam. Namun apakah itu mengganggu? Tidak, apalagi ketika Michael B. Jordan dan Sylvester Stallone terus mencuri perhatian dengan kinerja mengesankan mereka. Jordan berhasil menjadi anak panah yang baik dengan kesuksesan terbesar adalah menjadikan ini film tentang Donnie, bukan tentang Rocky. Sedangkan Stallone memberikan performa mengejutkan, Rocky yang merupakan pria sederhana kembali hadir tapi berhasil menjadi pemandu yang bukan hanya mengarahkan namun sesekali “menampar” dan “mencambuk” anak didiknya.



Creed berhasil menjadi sebuah jembatan yang manis antara old dan new dari film series Rocky, menghadirkan kembali sport drama penuh dengan "pukulan" keras yang menarik tanpa lupa untuk juga memberikan emosi yang sama meriahnya kedalam pertunjukkan. Michael B. Jordan dan Sylvester Stallone memberikan kinerja yang mengesankan, dan Ryan Coogler memberikan kendali dan eksekusi yang tepat sasaran. Hasilnya, regenerasi yang menyegarkan dan penuh rasa hormat terhadap dunia Rocky. Manis.














Thanks to: rory pinem

0 komentar :

Post a Comment