12 February 2016

Review: Southbound (2016)


"Because you cannot undo what's been done."

Film dengan tipe antologi lebih sering meninggalkan perasaan “kurang masak” akibat konsistensi yang lemah dan nada serta kualitas cerita tidak merata, ada segmen yang menarik namun sisanya lebih sering hanya menjadi pelengkap, ada yang mengganggu bahkan merusak excitement jalannya cerita. Bagaimana caranya agar daya tarik baik itu dari cerita, karakter, hingga teknik presentasi dapat terus mengalir dengan baik hingga akhir merupakan hal menarik dari sebuah film antologi.  Southbound sukses menyajikan hal menarik tadi dengan cara yang menarik, sebuah antologi horror, thriller, dan sci-fi yang justru tampak seperti sebuah kesatuan yang mengajak penonton menyaksikan kegilaan di California Selatan.

Dua pria penuh luka Mitch (Chad Villella) dan Jack (Matt Bettinelli-Olpin) berada di dalam mobil sedang mencoba lari dari sesuatu yang mengerikan. Band The White dengan anggota Kim (Nathalie Love), Ava (Hannah Marks), dan Sadie (Fabianne Therese) mengalami kempes ban dan melakukan tindakan yang “salah” ketika menerima sebuah tawaran untuk makan malam dan menginap. Lucas (Mather Zickle), seorang supir, dipaksa untuk menyelamatkan nyawa seorang wanita korban kecelakaan brutal. Jika dapat memutar waktu mungkin Danny (David Yow) akan berharap untuk tidak melihat “semua” yang ia lihat ketika menemukan adiknya yang telah lama menghilang. Bersama dengan orangtuanya, Jem (Hassie Harrison) berjuang untuk bertahan hidup ketika sosok asing bertopeng masuk ke dalam kamar hotel mereka. 



Ya, salah satu kekuatan utama dari Southbound sehingga ketika berakhir ia terasa solid adalah karena empat sutradara, Radio Silence (The Way Out & The Way In), Roxanne Benjamin (Siren), David Bruckner (The Accident) dan Patrick Horvath (Jailbreak) seperti bekerja dalam sebuah tim. Walaupun terpisah ke dalam lima bagian masing-masing segmen di Southbound seolah saling bekerja sama untuk menciptakan satu kesatuan, tidak saling terikat namun menciptakan kesan saling terikat seolah ada benang merah yang mengikat mereka. Mengapa itu menarik? Karena pencapaian tersebut berhasil mementahkan masalah dari sebuah film antologi untuk eksis di Southbound, sebuah presentasi yang tidak merata dan menciptakan impresi yang terkotak-kotak.



Siren merupakan segmen favorit saya di Southbound namun pilihan tersebut saya ambil lebih di karenakan unsur humor sarkastik yang berhasil dicampur dengan baik oleh Roxanne Benjamin dengan tema utama cerita yaitu horror. Siren terus mengganggu tapi tampil playful sehingga sering pula terasa lucu, sedikit nilai plus dibanding empat segmen lain meskipun mereka punya pesona yang sama kuat. Ambil contoh "The Accident", premis sangat sederhana tapi mampu menyajikan ketegangan yang begitu padat, sikap patuh yang justru membawa bencana. Bagian penutup "The Way In" juga oke terutama pada kemampuannya membawa kembali energi cerita ke level yang sama dengan bagian pembuka setelah sebelumnya asyik naik dan turun.



Ya, hal lain yang membuat Southbound menarik adalah cerita seperti sebuah bola salju yang meluncur dari sebuah bukit dan berusaha mengejar kamu para penontonnya yang terus coba ia kejar. Setelah satu kejutan hadir kemudian muncul kejutan lainnya, narasi memang naik dan turun tapi nada dan situasi gelap dari cerita tetap konsisten, dan itu dilakukan tanpa terlalu bertumpu pada “kejutan murah” yang mencoba memberi kamu sensasi dengan tikungan-tikungan tajam. Southbound menuntut penonton untuk berinvestasi di dalam masalah di setiap segmen, menjaga misteri serta dengan intens memainkan malapetaka yang kamu yakin akan menghampiri karakter, kemudian dengan cermat mengungkapkan mereka secara perlahan sebelum membawa kamu menemukan horror dan thrill yang memikat.



Selain arahan sutradara dan karakter yang berhasil dimainkan oleh cast dengan pas proses editing juga memiliki kontribusi besar dalam kesuksesan yang Southbound capai. Empat sutradara dari lima segmen ikut dalam proses editing, tidak heran Southbound mendapat keuntungan dari gerak cepat yang lima segmen itu tampilkan. Meskipun mondar-mandir fluiditas alur cerita terus terasa halus sehingga koneksi antar segmen secara keseluruhan tidak pernah hilang dan datang, The Way Out memberi kejutan, kehadiran Siren semakin memperkuat kesan mengganggu dari The Way Out, dan begitu seterusnya. Penonton tidak hanya menemukan kengerian yang terus terasa misterius tapi kamu juga akan terus didorong maju dengan ketegangan dan rasa penasaran yang kumulatif.



Southbound tidak mencoba melakukan inovasi dari tipe film antologi, ia merupakan sebuah film dengan lima segmen terpisah di dalamnya, tapi ternyata ketimbang masing-masing berdiri sendiri empat sutradara seolah sepakat untuk membuat ini menjadi satu kesatuan. Dan itu berhasil, ini merupakan sebuah sajian episodik yang inheren dengan mencengkeram kamu bukan hanya lewat kejutan tapi juga lewat imajinasi yang begitu intens, sebuah kumpulan kisah horror, thriller, hingga sci-fi yang jika menilik sinopsis memang tampak acak namun berhasil dijalin menjadi sebuah kesatuan yang manis. Segmented.










Thanks to: rory pinem

0 komentar :

Post a Comment