29 November 2015

Review: The Night Before (2015)


“Did you just call our baby a cunt?”

The Night Before merupakan percobaan terbaru dari Evan Goldberg dan Seth Rogen untuk menciptakan komedi yang berusaha make you laugh at tragedy, bisa dikatakan pula seperti kelanjutan dari 50/50 di dunia berbeda dengan kembalinya sang sutradara, Jonathan Levine, dan juga pemeran utama, Joseph Gordon-Levitt. Tapi membuat komedi dengan berlandaskan tragedi bukan sebuah pekerjaan yang mudah, itu sama saja seperti menghibur orang yang baru saja putus cinta dan masih berurai air mata dengan menggunakan music electronic dance. Film ini seperti itu, ada hiburan yang fun tapi something is missing. Weird comedy.

Sejak ia kehilangan orang tuanya yang mengalami kecelakaan pada malam Natal 14 tahun yang lalu, Ethan Miller (Joseph Gordon-Levitt) terus mendapat dukungan dari dua sahabatnya, Isaac Greenberg (Seth Rogen) dan Chris Roberts (Anthony Mackie) dengan salah satu tradisi yang mereka lakukan adalah bersenang-senang di malam Natal. Tapi situasi terkini menyulitkan hal tersebut untuk terulang kembali tahun depan, Isaac sedang menanti kehadiran anak pertamanya dengan Betsy (Jillian Bell), dan Chris semakin populer sebagai bintang NFL. Tiga sahabat ini memutuskan melakukan tradisi mereka untuk terakhir kali, membuat malam tidak terlupakan di kota New York. 



Niat utama film ini pada dasarnya sangat sederhana, ingin menjadi komedi yang nakal, menggunakan tiga karakter yang sedang bersiap untuk menjadi sosok yang dewasa dan bijaksana. Pada bagian awal film hal pertama tadi berhasil dieksekusi dengan baik oleh Jonathan Levine, tapi ternyata The Night Before tidak di set untuk serupa dengan film-film Seth Rogen sebelum ini seperti This Is the End, Neighbors, dan The Interview, memiliki upaya untuk membuat isu tentang tumbuh menjadi tua atau dewasa menjadi sesuatu yang berkesan bagi penonton, persis seperti upaya yang dilakukan oleh 50/50 dulu. Sayangnya hasilnya berbeda, The Night Before terasa jauh lebih longgar, aneh, dan kurang konsisten.



The Night Before seperti pesawat jet tempur yang mendadak lepas landas tanpa persiapan yang matang, lalu menembaki penonton dengan lelucon tanpa memperoleh koordinat target yang tepat. Memang beberapa ada yang mengenai sasaran, saya menemukan beberapa momen yang bahkan dapat dikatakan sangat lucu, tapi itu tadi mereka tidak mampu menjaga agar nada antara drama dan komedi menjadi konsisten dan seimbang. Drama? Iya, aneh memang, karena dibalik cerita yang berisikan ingar-bingar penuh aksi tidak waras seperti Harold & Kumar film ini juga tetap berusaha meninggalkan isi yang bermakna didalamnya. Celakanya dua hal itu mismatch, bagaimana caranya menaruh simpati atau prihatin pada karakter jika yang mereka lakukan adalah tindakan kebodohan yang cuma berusaha membuat penonton tertawa? Kontras.



Hal lain yang membuat The Night Before terasa aneh adalah ia ingin menjadi komedi yang nakal tapi tidak pernah terasa liar. Usaha di sektor komedi seperti masukkan semaksimal mungkin yang mereka bisa sehingga lelucon jadi terkesan trial and error kelas berat. Aneh, jika ingin meninggalkan kesan yang mendalam pada isu tentang tanggung jawab dan kehidupan mengapa tidak menciptakan komedi implisit yang lembut dengan beberapa hit besar ketimbang terobsesi pada cara nakal dalam penyampaian. Hasilnya, sebuah komedi yang seperti terbebani, tidak tampil dengan lepas dan bebas, momen lol yang dihasilkan sangat minim, tidak ada kejutan gila meskipun tiga karakter untuk berusaha melakukan hal-hal gila, chemistry tiga karakter utama juga terasa biasa.



Hal terpenting dari film dengan tipe seperti ini tidak berhasil dibentuk dengan kuat oleh Jonathan Levine, ruang main yang seimbang dan terkoneksi antara usaha untuk tampil lucu dan usaha untuk membuat isi tampak meaningful. Yang The Night Before hasilkan adalah komedi tragedy yang kurang seimbang, tipis dan punya momen dimana ia terasa stuck, dan yang paling disayangkan ia kurang berkomitmen dan kurang lepas ketika menjalankan dua tugas yang ia bawa. Lucu memang namun ketika melangkah keluar studio saya ditinggalkan dengan sebuah perasaan aneh dari sebuah komedi aneh dengan persilangan yang aneh. Michael Shannon!! Segmented.








0 komentar :

Post a Comment